Harga Sawit Terjun Bebas, Petani Harus Banting Stir

Petani sawit semakin terpuruk karena jatuhnya harga komoditi tersebut

Sepertinya nasib petani belakangan ini terasa semakin sulit. Betapa tidak, setelah harga karet anjlok, kini giliran harga sawit terjun bebas. Pasalnya sudah tiga bulan belakangan ini harga komoditas utama di Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat ini mengalami penurunan yang sangat drastis. Bayangkan saja harga TBS (Tandan Buah Segar) yang semula bisa mencapai harga Rp 1.300/kg kini tinggal Rp 800/kg.

Jauh sebelumnya harga karet telah anjlok lebih dulu. Banyak petani karet berfikir akan menggatikan tanaman karetnya dengan sawit. Namun setelah menerima kenyataan pahit turunnya harga sawit ini, malah membuat mereka bingung bahkan mengurungkan niatnya. Sebagaimana petani karet, petani sawit pun mulai resah dengan kondisi harga seperti ini.

Seperti yang dialami Joko (35) petani sawit yang tinggal di Dusun V Damar Hitam Desa Mekar Makmur. Dirinya sangat kuatir dengan tutunnya harga sawit. Sebab dari kebun sawitnya miliknya yang seluas setengah ha itu dia hanya mampu memanen TBS 400/kg per dua minggunya. Kalau dihitung dengan harga sawit Rp. 800/kg, maka dia hanya mendapat Rp. 160.000 saja. Bagaimana dia dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya?

Kondisi petani yang selama ini bergantung dari tanaman industri seperti sawit dan karet, hanya bisa pasrah saja. Sebab yang menentukan harga adalah pabrik. Pihak pabrik tak kan pernah memikirkan jika harga turun berdampak menyengsarakan petani.

Pemerintah pun dalam hal ini tidak mampu berbuat banyak. Informasi bahwa pemerintah akan membeli karet dengan menaikan harga sebesar Rp.8.500/Kg nya hanya hisapan jempol saja. Inisiatif pemerintah itu tak kan menyentuh daerah terpencil seperti Dusun Damar Hitam, Desa Mekar Makmur ini.

Usulan presiden agar petani menggantikan tanaman sawitnya dengan petai dan jengkol pun diangggap tidak menjawab masalah terpuruknya petani saat ini. Sebab jengkol dan petai harus menunggu dan terlalu lama baru bisa dipanen.

Akhirnya petanilah yang menjawab keadaan ini. Harus berfikir keras untuk membanting stir beralih dari tanaman industri yang menghisap itu kepada tanaman lain. Misalnya tanaman buah-buahan seperti durian, petai, jengkol yang harganya semakin mahal secara jangka panjang, dengan pola tanam campuran agar bisa mengantisipasi naik turunnya harga. (Suparno)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan